Senin, 08 September 2014

dariku, untukmu


Dariku, Untukmu
            Apa kau pernah denger lagu ini, lagunya crhisye.
“pernah ada
rasa cinta
antara kita
kini tinggal kenangan
ingin ku lupakan
semua tentang dirimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh cintaku..
jauh kau kau pergi meninggalkan diriku
disini aku merindukan dirimu
kini ku coba tuk cari penggantimu
namun tak lagi kan seperti dirimu
oh cintaku..”     
Seakan dirimu ada dalam setiap kenanganku, kenapa kamu ??.. Kenapa gak yang lain. Semua terjadi seakan tak terduga, aku tak pernah berpikir engkau akan pergi secepat itu. Aku tak pernah berpikir engkau akan meninggalkanku, sejauh itu. Kalaulah masih ada kesempatan kedua, bolehkah aku mengulangnya. Aku anggap semua itu salah faham, kesalah fahaman yang terjadi antara kita, aku dan kamu. Sikapmu itu yang membuatku kesal padamu. Sudah salah tak mau mengaku. Tak ada jalan untuk kita berbaikan, sepertinya. Kuharap kau mau mengerti dan juga menyadari. Jikalau marah, aku tak marah. Jikalau cuek seakan gak peduli, itu memang aku, namun kalaulah kamu ingin tau siapa aku, “look me like your enemy”. Kau akan tau segalanya dariku. Cinta itu memang indah, sayang kau terlalu cepat untuk menjadikan cinta itu sebagai sebuah amarah. Jujur saja, selama ini aku selalu egois atau apalah, aku gak peduli. Yang ku pedulikan itu cuma bagaimana kamu bisa  melihat aku sebagai orang yang berbeda dalam hidupmu. Yakinlah, aku bukan orang yang sama yang kau temui di masa lalu. Kau masih ingat saat kita masih di landa asmara, betapa kau mengakui tentang “cinta” yang kau berikan padaku. Aku hanya bisa melihat sisi yang satu, yakni indahnya cinta itu. Tanpa melihat sisi yang lainnya, bahwa kamu tak men-“cinta”-iku. Sungguh nyata memang, tapi aku tak percaya “kau seperti itu”. Memalukan.
Wajah orang munafik itu memang banyak, dalam harfiahnya saja dikatakan kalau munafik itu “lubang tikus yang ada di mana-mana”. Namanya juga tikus, tak mungkinlah menetap di satu tempat. Apapun itu, itukan jalanmu bukan jalanku. Maaf saja, sungguh memang aku sangat kecewa padamu. Terimakasih atas ke-munafikan-mu yang fatamorgana dalam cintamu. Very thank’s.
Namun ketahuilah, saat bersamamu adalah indah bagiku. Mencintaimu tanpa pernah menyenbunyikan perasaanku. Apa adanya bukan ada apanya, inilah diriku. Mungkin aku akan menemukan yang ter-indah selain dirimu. Kamu memang baik untukku, tapi bukan yang terbaik untukku. Kamu memang indah untukku, tapi bukan yang terindah untukku. Doakan saja aku dapat yang terbaik selain kamu. Selain orang yang pernah singgah di hatiku, kamu.
Aku mulai belajar jadi aku yang berubah dari aku. Aku mulai belajar ikhlas untuk segala rasa yang tertinggal darimu: sakit, kecewa, dan banyak juga sih. Namun terimakasih pula mengajarkan aku untuk tegar melawan kedigdayaan yang selama ini kau berikan padaku, semuanya. Maaf pula atas semua salah dan egoisku, seandainya aku tak egois mungkin aku akan mendapatkan maaf langsung darimu, di Tanggungan desamu. Saat malam itu, dan mengejarmu. Untukmu dan semua lukaku, maafkan aku atas keegoisanku. Saat itulah aku menyesal, kenapa gak dari dulu, mungkin aku masih bisa dapet penjelasan darimu. Aku hanya butuh penjelasan agar kita gak salah faham seperti ini, agar tak sakit pula perasaanku. Terus-terusan seperti ini, mungkin gak ada jalan untuk kita berbaikan. Sekali-kali berbicaralah padaku secara langsung tanpa melalui pesan singkatmu, agar ada jalan meskipun itu tak mungkin buatmu.
Aku gak yakin cara semacam ini akan ampuh untuk mengetuk pintu hatimu, namun inilah bentuk “tak gentar” dalam motto hidupku, “ikhtiar, sabar, tak gentar, jadi pintar. Pintar dalam segala hal”. Mungkin suatu saat nanti aku sudah “pintar” mencari jalan maafmu dan penjelasanmu. Untukmu dan semua kenanganmu, sabarlah. Aku kan mencari jalan untuk mengembalikan semuanya menjadi normal seperti semula. “dalam segala hal”, apapun caranya.
Kalau kamu ingin ngerti sepenuhnya siapa diriku. Ingatlah, itu sudah gak ada jalan. Sudah terhenti saat hari itu juga. Aku gak marah, aku gak benci. Buat apa memang, akau hanya ingin semuanya normal seperti semula. Dan hanya perlu kau ketahui, jadilah dirimu yang dulu karena disitu orang-orang di sekitarmu merasa nyaman denganmu. Penting atau tidaknya aku masih mencintaimu, susah bagiku untuk “lupa” siapa dirimu. Meski muka pura-pura tak tahu, sebenarannya hati inginkan gak seperti itu. Aku hanya ingin kembali normal. Itu saja.
Nin, look me once again.
Kau tau betapa susahnya aku ketika mendengar jawabanmu itu, aku tak punya pikiran lain selain ingin kembali seperti dulu. Seandainya aku kasih pilihan untukmu. Aku kasih kamu cincin: kamu pakai jika aku kamu kasih kesempatan berbalikan, simpan jika kita sahabatan, kembalikan jika kita teman, dan buang jika kamu tak mengaharapkan lagi adanya hubungan. Suudzan-ku kamu mesti pilih pilihan yang terakhir, soalnya kamu udah terlalu benci denganku. Bisa jadi lebih dari benci. Tak apalah, memang sepertinya sudah tak ada jalan yang baik untuk kita berbalikan, seperti itu-lah kiraku. Cinta itu memang tak bisa di paksakan, tapi mengapa kamu memaksakannya?. Jadinya susah untuk kamu sendirikan. Sudahlah, terlalu lama unek-unek ini gak bisa tersampaikan. Waktu yang tepat untuk menyampaikannya bertepatan dengan ulang tahunku, ku harap dan semoga kau kasih kado yang terbaik untukku. Tak lebih adalah penjelasan dan jawabanmu.
“Kau akan tahu cinta itu akan datang di setiap waktu
Kau akan tahu cinta itu menyakitkan di setiap waktu
Kau akan tahu harapan palsu itu ada di setiap waktu
Kau akan tahu benih itu akan tumbuh kapanpun dia mau
Walau di tempat gersangpun, dia menanti hujan yang diturunkan untuknya
Saat tumbuh, sebenarnya ia tak mau berpisah dengan cahaya
Cahaya matahari yang panas
Cahaya rembulan yang dingin
Sedingin apapun cahaya itu, sepanas apapun cahaya itu
Dia tetap tak bergeming
Cahaya malam itu yang ku nantikan
Di pertengan bulan
Teringat seseorang yang kunantikan
Apapun bentuknya, yang ku inginkan hanya terang cahayanya saja
Nin, guide me your way”

J aku gak akan memaksamu untuk memilih jalan yang aku harapkan, jalan yang tidak kau inginkan. Maafkan kata-kataku yang diatas tadi, sedikit kasar bahkan sudah kasar. Kuharap dengan cara seperti ini akan berhasil mengetuk pintu hatimu. JJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar